022 2032522
0822 144 623 86
D38FBC35
tokoalkes.com
Menu

( pcs)
jmlBarangBerat (Kg)Total
keranjang anda kosong
0 0,00Rp 0
Selesai Belanja
Rp 48.000 55.000
Order Sekarang » SMS :
ketik : Kode - Nama barang - Nama dan alamat pengiriman
Nama BarangTermometer Digital Omron MC 246 Kaku
Harga Rp 48.000 55.000
Anda HematRp 7.000 (12.73%)
Lihat Detail
Rp 1.550.000 1.755.000
Order Sekarang » SMS :
ketik : Kode - Nama barang - Nama dan alamat pengiriman
Nama BarangTensimeter Digital OMRON HEM 7221
Harga Rp 1.550.000 1.755.000
Anda HematRp 205.000 (11.68%)
Lihat Detail
Rp 45.000
Order Sekarang » SMS :
ketik : Kode - Nama barang - Nama dan alamat pengiriman
Nama BarangFoley Catheter / Selang Kateter Urine Silikon / Silicone Fesco
Harga Rp 45.000
Lihat Detail
Rp 101.000
Order Sekarang » SMS :
ketik : Kode - Nama barang - Nama dan alamat pengiriman
Nama BarangNESCO Test Strip Asam Urat (Uric acid)
Harga Rp 101.000
Lihat Detail

Apakah Hidrosefalus, Definisi, Etiologi, Patofisiologi dan Penatalaksanaan

Friday, June 6th 2014.

A.DEFINISI

Hidrosefalus adalah keadaan patologik otak yang mengakibatkan bertambahnya cairan cerebrospinal dan adanya tekanan intrakranial (TIK) yang meninggi sehingga terdapat pelebaran ruangan tempat mengeluarkan likuor (Depkes RI, 1989)
Hidrosefalus adalah kelebihan cairan cerebrospinalis di dalam kepala. Biasanya di dalam sistem ventrikel atau gangguan hidrodinamik cairan likuor sehingga menimbulkan peningkatan volume intravertikel (Setyanegara, 1998)

Hidrosefalus adalah kelainan patologis otak yang mengakibatkan bertambahnya cairan cerebrospinal dengan atau pernah dengan tekanan intrakranial yang meninggi, sehingga terdapat pelebaran ventrikel (Darsono, 2005)

Hidrosefalus

B.ETIOLOGI
Hidrosefalus terjadi bila terdapat penyumbatan aliran cairan serebrospinal (CSS) pada salah satu tempat antara tempat pembentukan CSS dalam sistem ventrikel dan tempat absorbsi dalam ruang subaraknoid. Akibat penyumbatan, terjadi dilatasi ruangan CSS diatasnya (Ropper, 2005). Teoritis pembentukan CSS yang terlalu banyak dengan kecepatan absorbsi yang abnormal akan menyebabkan terjadinya hidrosefalus, namun dalam klinik sangat jarang terjadi. Beberapa penyebab terjadinya hidrosefalus:

1.Kelainan bawaan

  • Stenosis Aquaductus sylvii: Merupakan penyebab yang paling sering pada bayi/anak (60-90%). Aquaductus dapat mengalami stenosis dimana saluran ini menjadi lebih sempit dari biasanya. Umumnya gejala Hidrosefalus terlihat sejak lahir/progresif dengan cepat pada bulan-bulan pertama setelah lahir.
  • Spina bifida dan cranium bifida: Biasanya berhubungan dengan sindrom Arnold-Chiari akibat tertariknya medula spinalis dengan medula oblongata dan cerebelum, letaknya lebih rendah dan menutupi foramen magnum sehingga terjadi penyumbatan sebagian/total.
  • Sindrom Dandy-Walker: Merupakan atresia congenital foramen luscha dan mengendie yang mengakibatkan hidrosefalus obstruktif dengan pelebaran sistem ventrikel terutama ventrikel IV sehingga merupakan krista yang besar di daerah losa posterior.
  • Kista Arachnoid: Dapat terjadi secara conginetal dan membagi etiologi menurut usia.
  • Anomali pembuluh darah

2.Infeksi:

Akibat infeksi dapat timbul perlekatan meningen sehingga dapat terjadi obliterasi ruangan subaraknoid. Pelebaran ventrikel pada fase akut meningitis purulenta terjadi bila aliran CSS terganggu oleh obstruksi mekanik eksudat purulen di akuaduktus sylvii atau sisterna basalis. Lebih banyak hidrosefalus terdapat pasca meningitis. Pembesaran kepala dapat terjadi beberapa minggu sampai beberapa bulan sesudah sembuh dari meningitisnya. Secara patologis terdapat penebalan jaringan piamater dan araknoid sekitar sisterna basalis dan daerah lain. Pada meningitis serosa tuberkulosa, perlekatan meningen terutama terdapat di daerah basal sekitar sisterna kiasmatika dan interpendunkularis, sedangkan pada meningitis purulenta lokalisasinya lebih tersebar.

3.Perdarahan:

Perdarahan sebelum dan sesudah lahir dalam otak, dapat menyebabkan fibrosis leptomeningen terutama pada daerah basal otak, selain penyumbatan yang terjadi akibat organisasi dari darah itu sendiri (Ropper, 2005).

4.Neoplasma:

Hidrosefalus oleh obstruksi mekanik yang dapat terjadi di setiap tempat aliran CSS. Pada anak yang terbanyak menyebabkan penyumbatan ventrikel IV atau akuaduktus Sylvii bagian terakhir biasanya suatu glioma yang berasal dari serebelum, penyumbatan bagian depan ventrikel III disebabkan kraniofaringioma.

C.KLASIFIKASI
1.Hidrocefalus kongenitus: Hidosefalus kongenitus dapat timbul karena adanya malformasi pada system saraf pusat, seperti karena adanya:

  • Anomali Arnold-Chiari, yang dapat timbul bersama dengan suatu meningokel atau suatu meningomielokel.
  • Stenosis dari akuaduktus sylvii
  • Malformasi dari Dandy-Walker. Pada sindrom Dandy-Walker terdapat atresi dari foramen luschka dan Megendie.
  • Kiste-kiste subaraknoidal
  • Aneurisma dari vena cerebri magna Galeni, yang menekan pada akuaduktus Sylvii.

2.Hidrocefalus kuisita: Hidrosefalus akuisita timbul sesudah:

  • Trauma kapatis
  • Pendarahan subarachnoidal
  • Infeksi pada SSP seperi, Meningitis tuberkulosa, meningitis Hemofilus influenza, Toksoplasmosis.

3.Normal Pressure Hidrosefalus: Pada Normal Pressure Hidrosefalus dapat ditemukan:

  • Retardasi mental dengan disorientasi dan pelupa
  • Paraparese dan ataksi
  • Inkontinensia Urine
  • Ventrikel yang melebar dengan tekanan yang normal.

D.TANDA DAN GEJALA
Tanda awal dan gejala hidrosefalus tergantung pada awitan dan derajat ketidakseimbangan kapasitas produksi dan resorbsi CSS (Darsono, 2005). Gejala-gejala yang menonjol merupakan refleksi adanya hipertensi intrakranial. Manifestasi klinis dari hidrosefalus pada anak dikelompokkan menjadi dua golongan, yaitu:

  1. Awitan hidrosefalus terjadi pada masa neonatus: Meliputi pembesaran kepala abnormal, gambaran tetap hidrosefalus kongenital dan pada masa bayi. Lingkaran kepala neonatus biasanya adalah 35-40 cm, dan pertumbuhan ukuran lingkar kepala terbesar adalah selama tahun pertama kehidupan. Kranium terdistensi dalam semua arah, tetapi terutama pada daerah frontal. Tampak dorsum nasi lebih besar dari biasa. Fontanella terbuka dan tegang, sutura masih terbuka bebas. Tulang-tulang kepala menjadi sangat tipis. Vena-vena di sisi samping kepala tampak melebar dan berkelok (Rickham, 2003)
  2. Awitan hidrosefalus terjadi pada akhir masa kanak-kanak: Pembesaran kepala tidak bermakna, tetapi nyeri kepala sebagai manifestasi hipertensi intrakranial. Lokasi nyeri kepala tidak khas. Dapat disertai keluhan penglihatan ganda (diplopia) dan jarang diikuti penurunan visus. Secara umum gejala yang paling umum terjadi pada pasien-pasien hidrosefalus di bawah usia dua tahun adalah pembesaran abnormal yang progresif dari ukuran kepala. Makrokrania mengesankan sebagai salah satu tanda bila ukuran lingkar kepala lebih besar dari dua deviasi standar di atas ukuran normal. Makrokrania biasanya disertai empat gejala hipertensi intrakranial lainnya yaitu:
  • Fontanel anterior yang sangat tegang
  • Sutura kranium tampak atau teraba melebar
  • Kulit kepala licin mengkilap dan tampak vena-vena superfisial menonjol
  • Fenomena ‘matahari tenggelam’ (sunset phenomenon)

Gejala hipertensi intrakranial lebih menonjol pada anak yang lebih besar dibandingkan dengan bayi. Gejalanya mencakup: nyeri kepala, muntah, gangguan kesadaran, gangguan okulomotor, dan pada kasus yang telah lanjut ada gejala gangguan batang otak akibat herniasi tonsiler (bradikardia, aritmia respirasi). (Darsono, 2005)

E.PATOFISIOLOGI
Tekanan negatif CSS yang dibentuk dalam sistem ventrikel oleh pleksus khoroidalis kembali ke dalam peredaran darah melalui kapiler dalam piamater dan arakhnoid yang meliputi seluruh susunan saraf pusat (SSP). Cairan likuor cerebrospinalis terdapat dalam suatu sistem, yakni sistem internal dan sistem eksternal. Pada orang dewasa normal jumlah CSS 90-150 ml, anak umur 8-10 tahun 100-140 ml, bayi 40-60 ml, neonatus 20-30 ml dan prematur kecil 10-20 ml. Cairan yang tertimbun dalam ventrikel 500-1500 ml (Darsono, 2005). CSS mengalir dari ventrikel lateral melalui foramen Monro menuju ventrikel yang ketiga, tempat dimana cairan tersebut menyatu dengan cairan yang telah disekresi ke ventrikel ketiga.

Dari sana CSS mengalir melalui akueduktus Sylvii menuju ventrikel keempat, tempat dimana cairan lebih banyak dibentuk, kemudian cairan tersebut akan meninggalkan ventrikel keempat melewati foramen Luschka lateral dan garis tengah foramen Magendie dan mengalir menuju sisterna magna. Dari sana CSS mengalir ke serebral dan ruang subaraknoid serebellum, dimana cairan akan diabsorbsi. Sebagian besar diabsorbsi melalui villi araknoid, tetapi sinus, vena dan substansi otak juga berperan dalam absorpsi. Penutupan sisterna basalis menyebabkan gangguan kecepatan reabsorbsi CSS oleh sistem kapiler (DeVito EE et al, 2007).

Hidrosefalus secara teoritis terjadi sebagai akibat dari tiga mekanisme yaitu: Produksi likuor yang berlebihan, Peningkatan resistensi aliran likuor, dan Peningkatan tekanan sinus venosa. Konsekuensi tiga mekanisme di atas adalah peningkatan tekanan intrakranial sebagai upaya mempertahankan keseimbangan sekresi dan absorbsi. Mekanisme terjadinya dilatasi ventrikel cukup rumit dan berlangsung berbeda-beda tiap saat selama perkembangan hidrosefalus.

Produksi likuor yang berlebihan disebabkan tumor pleksus khoroid. Gangguan aliran likuor merupakan awal dari kebanyakan kasus hidrosefalus. Peningkatan resistensi yang disebabkan gangguan aliran akan meningkatkan tekanan likuor secara proporsional dalam upaya mempertahankan reabsorbsi yang seimbang.

Peningkatan tekanan sinus vena mempunyai dua konsekuensi, yaitu peningkatan tekanan vena kortikal sehingga menyebabkan volume vaskuler intrakranial bertambah dan peningkatan tekanan intrakranial sampai batas yang dibutuhkan untuk mempertahankan aliran likuor terhadap tekanan sinus vena yang relatif tinggi. Konsekuensi klinis dari hipertensi vena ini tergantung dari komplians tengkorak. (Darsono, 2005).

Berdasarkan hal di atas akan terjadi penimbunan berlebihan (abnormal) cairan cerebrospinal pada ruang-ruang yang secara normal terdapat CSS. Lingkaran kepala neonatus biasanya adalah 35-40 cm. Pada umur 1 tahun lingkaran kepala tersebut dapat mencapai 45 cm. Pada penderita hidrosefalus lingkaran kepala itu jauh di atas lingkaran yang normal. Kepala itu membesar “out of proportion” oleh karena Tekanan intrakranium terus meningkat. Tekanan ini meningkat karena reabsorbsi dari likuor itu tidak dapat berfungsi dengan baik. Misalnya suatu stenosis pada akuaduktus Sylvii akan dapat menimbulkan gangguan pada peredaran likuor, yang menimbulkan hidrosefalus. Selain itu juga karena sutura di antara tulang-tulang kepala belum menutup, sehingga kepala terus membesar.

Oleh karena itu, maka penderita tidak banyak memperlihatkan gejala atau tanda tekanan intrakranium yang meningkat. Penderita tidak akan menangis terus-menerus karena nyeri kepala; penderita tidak akan memperlihatkan muntah proyektil.

F.PEMERIKSAAN PENUNJANG

  1. Foto Rontgen: Foto rotgen memperlihatkan kepala yang membesar dengan sutura dan fontanel yang masih terbuka. Tulang-tulang kepala tampak sangat tipis. Bila fosa crania posterior tampak kecil dibandingkan fossa crania medial dan anterior maka mungkin hidrocefalus tersebut ditimbulkan oleh suatu stenosis akuaduktus sylvii.
  2. Pemeriksaan CT Scan: Memperlihatkan susunan ventrikel yang membesar secara simetris. Fungsi ventrikel kadang digunakan untuk menukur tekanan intra kranial menghilangkan cairan serebrospinal untuk kultur (aturan ditentukan untuk pengulangan pengaliran)
  3. EEG : untuk mengetahui kelainan genetik atau metabolik
  4. MRI : ( Magnetik resonance imaging ) memberi informasi mengenai stuktur otak tanpa kena radiasi

G.PENATALAKSANAAN

  1. Penanganan Sementara: Terapi konservatif medikamentosa ditujukan untuk membatasi evolusi hidrosefalus melalui upaya mengurangi sekresi cairan dari pleksus khoroid atau upaya meningkatkan resorbsinya.
  2. Penanganan Alternatif (Selain Shunting): Misalnya : pengontrolan kasus yang mengalami intoksikasi vitamin A, reseksi radikal lesi massa yang mengganggu aliran likuor atau perbaikan suatu malformasi. Saat ini cara terbaik untuk melakukan perforasi dasar ventrikel III adalah dengan teknik bedah endoskopik. (Rickham, 2003)
  3. Operasi Pemasangan ‘Pintas’ (Shunting): Operasi pintas bertujuan membuat saluran baru antara aliran likuor dengan kavitas drainase. Pada anak-anak lokasi drainase yang terpilih adalah rongga peritoneum. Biasanya cairan cerebrospinalis didrainase dari ventrikel, namun kadang pada hidrosefalus komunikans ada yang didrain ke rongga subarakhnoid lumbar. Ada dua hal yang perlu diperhatikan pada periode pasca operasi, yaitu: pemeliharaan luka kulit terhadap kontaminasi infeksi dan pemantauan kelancaran dan fungsi alat shunt yang dipasang. Infeksi pada shunt meningatkan resiko akan kerusakan intelektual, lokulasi ventrikel dan bahkan kematian (Ropper, 2005)

 

DAFTAR PUSTAKA

  • Wong and Whaley. 1995. Clinical Manual of Pediatric Nursing, Philadelphia
  • Suddart dan Brunner. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, Jakarta: EGC
  • Sudoyo. 2006. Ilmu Penyakit Dalam, Jakarta : FKUI
  • Sylvia. 1995. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit, Edisi 4, Jakarta: EGC
  • Jong. 1997. Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi Revisi, Jakarta: EGC
  • Ngoerah. 2001. Dasar-Dasar Ilmu Penyakit Saraf, Jakarta: EGC
  • DeVito EE, Salmond CH, Owler BK, Sahakian BJ, Pickard JD. 2007. Caudate structural abnormalities in idiopathic normal pressure hydrocephalus. Acta
  • Neurol Scand 2007: 116: pages 328–332
  • Peter Paul Rickham. 2003. Obituaries. BMJ 2003: 327: 1408-doi: 10.1136/ bmj.327.7428.1408
  • Ropper, Allan H. And Robert H. Brown. 2005. Adams And Victor’s Principles Of Neurology: Eight Edition. USA
  • mantrinews.blogspot.com

 

Incoming search terms:

  • patofisiologi hidrosefalus
  • hidrosefalus
  • yhs-fullyhosted_003
  • etiologi hidrosefalus
  • patofisiologis hidrosefalus
  • penatalaksanaan hidrosefalus
  • patofisiologi hidrsefalus
  • manifestasi klinis hidrosefalus
  • patofisiologi dan penatalaksaanaan hidrosefalus
  • patofisiologis hidrosefalus pada bbl

Produk terbaru

Rp 3.380.000
Order Sekarang » SMS :
ketik : Kode - Nama barang - Nama dan alamat pengiriman
Nama BarangBaby Cot Stainless Steel BFG 031 – 001
Harga Rp 3.380.000
Lihat Detail
Rp 372.000 450.000
Order Sekarang » SMS :
ketik : Kode - Nama barang - Nama dan alamat pengiriman
Nama BarangStetoskop Toonscope Dewasa
Harga Rp 372.000 450.000
Anda HematRp 78.000 (17.33%)
Lihat Detail
Rp 2.333.000
Order Sekarang » SMS :
ketik : Kode - Nama barang - Nama dan alamat pengiriman
Nama BarangTrolley Instrumen stainless 2 Tahap BFG 081-001
Harga Rp 2.333.000
Lihat Detail
Rp 34.000
Order Sekarang » SMS :
ketik : Kode - Nama barang - Nama dan alamat pengiriman
Nama BarangBengkok atau Nierbeken (Waskom Bengkok Stainless 23 cm)
Harga Rp 34.000
Lihat Detail
Rp 39.900 47.500
Order Sekarang » SMS :
ketik : Kode - Nama barang - Nama dan alamat pengiriman
Nama BarangSarung Tangan Karet Maxter Non Steril Powdered
Harga Rp 39.900 47.500
Anda HematRp 7.600 (16.00%)
Lihat Detail
Rp 1.050.000
Order Sekarang » SMS :
ketik : Kode - Nama barang - Nama dan alamat pengiriman
Nama BarangBed Screen Stainless Steel Double (2 Bidang)
Harga Rp 1.050.000
Lihat Detail
Rp 284.000
Order Sekarang » SMS :
ketik : Kode - Nama barang - Nama dan alamat pengiriman
Nama BarangStomahesive Powder Convatec
Harga Rp 284.000
Lihat Detail
Rp 45.000
Order Sekarang » SMS :
ketik : Kode - Nama barang - Nama dan alamat pengiriman
Nama BarangFoley Catheter / Selang Kateter Urine Silikon / Silicone Fesco
Harga Rp 45.000
Lihat Detail